The 13th Room, Bagian Ketiga


SEQUENCE 9
DI ANTARA TEMBOK/GANG SEMPIT KOTA GEDE - SORE HARI


{Betapa kagetnya Djodi saat di pengkolan ke kiri Lorong Pagar tembok tinggi tersebut berpapasan kembali dengan Pak Tua yang terekam tak sengaja sebelumnya, Pak Tua ini saat berpapasan tersebut mengatakan  kepada Djodi “Berhati-hatilah Lah Nak dengan suatu kekuatan yang kamu tidak punya kemampuan padanya“ Rima hanya bengong,  melihat adegan yang serta merta tersebut seolah-olah ada bahagian yang terlewati untuk nya,...}

DJODI            :(Djodi tidak berkata apa-apa tidak juga terimakasih pada pak Tua itu, di biarkan saja Pak Tua itu melalui nya tanpak Djodi menolehnya bukan karena Djodi tak tahu bersopan santun namun Dia masih Shock pada stuasi serba Cepat ini, Djodi dan Rima terpaku beberapa detik, Djodi sambil mendorong Motor itu kembali) OK Rima

{Sesaat kemudian mereka telah sampai di Awal Gang yang mereka masuki pertama tadi, kali ini Motor sudah bisa di hidupkan, mereka menaikinya, melaju akhirnya menghilang di Ujung jalan Utama,...}


SEQUENCE 10
PINGGIR JALAN DEPAN KOS DJODI - SORE HARI


{Djodi Memarkirkan Motor tepat di pintu pagar kos-kosannya, kos-kosan ini berdiri megah di pinggir jalan sepanjang 75 meter, beberapa rumah tertata rapi layaknya seperti kompleks Perumahan, namun sebenarnya ini adalah perpaduan antara deretan rumah tinggal dan pertokoan, karena letaknya tidak jauh dari pusat Kota, jadi ada beberapa pemilik rumah yang menyulap rumah tinggalnya sebagai pertokoaan, pemandangan di sini sangat dinamis, variatif dan balance}

DJODI            :(Djodi turun dari sepeda motor, sambil tangan kanannya masih memegang salah satu stang motor) Thanks Rima,...

RIMA :(Rima menggeser posisi duduknya ke bahagian Jok depan dan memantapkan kedua tangannya pada stang motor, sambil tetap melihat ke arah Djodi) yaaa,...?! sama-sama, sampai nanti

RIMA :(Memutar arah Motornya, menciptakan atraksi kecil berupa asap karena Rima mencoba gaya putaran Crosser, melambai tangan ke arah Djodi dan melaju)

DJODI :(Sambil membalas lambaian tangan Rima Djodi tersenyum melihat aksi Rima, karena hal itu berarti Rima sudah menemukan dirinya kembali dan terror mimpi sudah tak begitu memperangaruhinya kembali, kemudian Djodi terlihat membuka pintu pagar dan menghilang di balik pagar setinggi 1.5 meter tersebut, sebenarnya bukan tingginya pagar namun karena pagar kos-kosan Djodi baru saja di pasang viber atawa Plastic, kata Ibu kos biar privasi terjaga)


SEQUENCE 11
PINGGIR JALAN RUMAH RIMA - MENJELANG MAGRIB


{Terlihat dari jauh sepeda Motor Rima menyalakan Lampu send  kiri kemudian Rima menghentikan motor nya tepat di Trotoar sebuah rumah, Rima turun dari Motornya membuka Pintu Pagar lalu membawa masuk motor kemudian menutup kembali pintu pagar rapat, rumah Rima tidak terlalu besar namun asri, mungil, hanya satu kamar berukuran 4 X 3 dan dua 2.5 X 2, sebuah dapur dua kamar Kecil yang satu ada di kamar utama yaitu kamar Rima satu nya merupakan WC tambahan terletak di bahagian belakang, beberapa jenis bunga di antara batu-batu kerikil putih menambah cantik halaman belakang rumah Rima, ruma ini di beli orang Tua nya 8 tahun yang lalu, sementara Rima baru tinggal di sini 4 tahun, sebelumnya  2 Orang kakaknya pernah tinggal di rumah ini sewaktu mereka sama-sama kuliah. sekali-kali Ortu Rima Dari Sumatera datang menjengguknya lebih sering ayahnya karena ketika ada kepentingan Bisnis menyempatkan juga mengunjunginya, sementara Ibunya 2 bulan sekali atau sebaliknya kadang Rima yang pulang, kalau tidak dalam waktu libur paling Rima menetap 3 hari. Kadang juga beberapa teman sering nginap di sini, juga sering di pinjamin buat acara kecilan seperti acara Ultah teman-teman bila sedang boring di Cafe, mall Atau rumah Makan, Rima sama sekali tak keberatan malah hal tersebut menguntungkan, rumah jadi gak sepi dan ada teman}

RIMA :(Rima terdengar bersiul dan bernyanyi kecil di kamar mandi, lebih kurang 5 menit kemudian Ia keluar dari kamar mandi  dengan handuk yang hampir membalut seluruh tubuh nya yang tidak begitu besar Itu. kemudian Rima mengenakan Mukena, sepertinya kali ini memang dia akan Shalat magrib, kebiasaan ini belum lama menjadi tugas rutinnya, sebelumnya Rima sering melalalaikan tugas mulia nya ini, kelihatannya Ia memang memiliki banyak perubahan termasuk kedewasaan yang semakin bertambah walupun kadang sifat kasak krusuknya masih belum bisa dihilangkan seluruhnya, setelah selesai Sholat, Rima membaca Tafsiran Al-qur’an namun tidak dengan suara nyaring hanya dalam hati, Rima terlihat khusyuk menelaah baris demi baris arab plus terjemahannya. 10 menit kemudian handphone nya berdering, dia mengambil Handphone, dari seberang terdengar Suara Djodi)

RIMA :(Hanphone di telinga kanannya,...)

SUARA DJODI :(Hiii Rima, sorry Ganggu,...aku hanya ingatkan kamu besok jangan lupa Kita perlu survey ke beberapa Hotel mengenai kamar nomor 13, Kita perlu tahu ada berapa Hotel memakai No 13, juga ada berapa Hotel yang langsung lompat ke No 14. Kita bertemu  jam 9 pagi di Cafe Merci)

RIMA :Ok,...Thanks Sampai Besok, Salam,...





SEQUENCE 12
CAFE MERCI - PAGI HARI


{Matahari pagi menerpa seluruh dinding kaca Cafe Merci, Cafe Merci letaknya di pertigaan sebuah jalan sangat strategis dan sehat karena menghadap ke timur, dengan demikian setiap pagi matahari selalu menerangi, dinding terbuat dari kaca dari bahagian dalam di lapisi dengan Tirai yang terbuat dari anyaman Rotan, sejumlah meja kursi berderet dekat dinding kaca, beberapa buah kursi panjang tertata di dekat meja tinggi dan panjang, sepintas Cafe ini seperti Cafe-cafe yang bertebaran di Eropa, ya maklum pemiliknya dulu pernah tinggal di Perancis 5 tahun ikut istrinya yang berkebangsaan Perancis, Mas Kasim namanya, Rima sangat sering mampir ke Cafe Mas  Kasim ini, ada beberapa menu cocok terlebih Rima sangat suka minum kopi, aroma nya beda. Akhir-akhir ini selama kedekatannya dengan Djodi, Djodi juga jadi suka datang kemari, walaupun tanpa Rima. Saat-saat Cafe sepi Mas Kasim sering mengajak Rima Ngobrol tentang kissah hidupnya, sisi yang paling menarik bagi Rima adalah kisah mas Kasim dengan seorang wanita Perancis bernama Melanie, wanita ini dulu pernah menjadi isterinya, Oleh karenanya Cafe nya ini di beri nama MERCI, di kutip dari bahasa Perancis.

Ketika Rima memasuki Cafe matanya mencari ke beberapa meja Ia berharap menemukan Djodi disalah satu meja tersebut, sepertinya Djodi terlambat, lalu Rima mendapatkan kursi di dekat pojok paling ujung di selatan, Ia memilih duduk menghadap ke Utara dan di biarkan wajah sebelah kanannya di terpa matahari pagi yang tembus lewat jendela kaca. Pagi sudah menjadi kebiasaan di sini banyak pengunjung terutama mahasiswa, Ibu-ibu muda juga wanita-wanita pegawai Mall sebelum masuk kerja, di sini memang murah meriah, namun dari sisi menu dan service tetap nomor satu, elite tetapi murah. Oleh karenanya cocok untuk mahasiswa atau siapapun. Seorang Pramusaji Wanita muda mendekat ke meja Rima}

PRAMUSAJI WANITA :(Membawa daftar menu, meletakkan di atas meja Rima sambil tetap tersenyum manis ke arah Rima) Silahkan Mbak...

RIMA :(Rima sudah tak asing dengan wanita muda satu ini, karena begitu seringnya dia kemari. Rima sudah sangat hafal dengan daftar menu di sini, so sebelum Pramusaji wanita itu pergi dia langsung memesan) Mbak seperti biasa segelas kopi dan satu Roti Croissant, (Croissant adalah Roti khas Perancis, sepintas seperti tanduk kerbau melengkung seperti kurva dan lancip di kedua ujung nya, rasanya manis, ukuran dan beratnya bervariasi, mulai dari 100 Gram sampai tak terbatas, tetapi biasanya sampai 400 gram)

DJODI :(Djodi terlihat membuka pintu Cafe Merci, lalu langsung menuju ke arah Rima ) Hii Rim kamu lebih cepat,...

RIMA : (Rima menunjukkan Expresi agak kesel ) tidak kah kamu merasa terlambat,..?!

DJODI            :(Djodi agak terkejut mendapati Rima kesal pada nya) Apa,...? Aku terlambat,...?! (Djodi melihat jam tangannya) Bukankah sekarang baru jam 8:45 menit

RIMA :(Rima juga melihat jam Tanggannya, Ia merasa tak yakin dengan matanya, karena jam tangannya menunjuk kan waktu yang sama dengan Jam Djodi) Ada apa dengan mata ku (Ia bertanya pada dirinya sendiri dan Djodi, karena sebelumnya Rima melihat jam nya waktu Ia sampai di Cafe Merci waktunya sudah menunjukkan Jam 8:55 menit bagaimana sekarang berputar balik) Aneh,...! ntah kenapa banyak hal-hal ganjil akhir-akhir ini terjadi.

DJODI            :(Djodi menarik nafas berat) Rima,... sebenar nya setibanya aku tadi. Aku ingin bercerita ke kamu bahwa semalam sekitar jam 3:00 Pagi aku juga mengalami hal aneh dalam tidur ku. Aku mendengar Suara Kuda lalu di belakangnya di ikuti suara sekelompok orang memainkan Marchine Band, Aku terbangun dari tidur ku, aku mengira semula itu hanya suara dalam mimpi ku, namun kamu tahu,...?! setelah aku terjaga, suara itu masih terdengar cuma kali ini menjauh dari Kos ku, lalu ntah dorongan siapa aku bergegas ke luar rumah untuk memastikan kebenaran suara itu yang menghilang perlahan, sepertinya suara itu menghilang di ujung jalan lalu aku berlarian ke ujung jalan, mencoba menemukan sumber suara itu, aneh sekali. Aku tidak mendapati siapa pun di sana, hanya ada beberapa Orang becak tertidur pulas dalam becaknya menanti Pagi, kamu tahu,...?! waktu itu aku baru sadar, ternyata aku hanya sendiri di pagi buta berlarian ke sana kemari seperti orang lupa ingatan. Aku bergegas berlarian ke kos kembali, seolah-olah pintu pagar begitu jauh, aku seperti tak sabar ingin meraihnya, sesampai aku di kamar, aku terengah-engah, seperti kehabisan nafas, setelah kejadian itu aku tak bisa tidur, baru jam 6:00 aku bisa tidur, ketika aku mendengar suara si Mbok Pembantu memanaskan air di dapur dan beberapa penghuni lain sudah terjaga, aku bangun jam 8:00, karena sebelumnya aku sudah menyetel Alarm pada jam itu. lalu Aku bergegas kemari.

RIMA :(Rima yang sedari tadi mendengar cerita aneh Djodi, tampak beberapa kali menarik nafas berat. kali ini Rima tak begitu shock lagi mendengar cerita aneh seperti itu. Toh Ia sendiri sudah mengalami sebelumnya walaupun dari kejadian yang berbeda) Ok Djod,...sepertinya kita sudah sama-sama tahu, bahwa yang sedang kita teliti ini memang memiliki sisi ghaib nya, dan beberapa kejadian aneh akhir-akhir ini menimpa kita, itu sudah cukup untuk ku  simpulkan bahwa ghaib itu ada, artinya ada kehidupan lain yang ghaib, dan ini berarti kita tidak sendiri di Jagat Raya yang maha luas ini.

DJODI            :Ya benar,... Aku jadi ingat,...sewaktu kita hendak pulang dari Kota Gede tempo hari, kita berpapasan dengan seOrang Tua, kamu masih ingat ucapannya pada kita,...? kalau kamu lupa aku bacakan sekali lagi untuk mu “ Berhati-hatilah Lah Nak dengan Suatu kekuatan yang kamu tidak punya kemampuan padanya “  Sampai sekarang kadang aku teringat-ingat ucapan itu, ada nada ancaman, peringatan atau sejenisnya, dan aku belum sempat cerita ke kamu, sebenarnya Bapak Tua itu sebelumnya sewaktu aku mengambil beberapa shoot, tanpa sengaja aku mengarahkan Camera ke salah satu rumah, kamu tahu Rim,...lewat View Vender Camera Aku melihat dia berdiri tak jauh dari pintu rumah nya seolah-olah dia mencoba berkomunikasi dengan ku dan jarak yang jauh itu seperti sangat dekat dan seolah dia berdiri tepat di depan ku dan melihat ku tajam. Sepertinya waktu itu dia mencoba mengatakan sesuatu namun aku tidak bisa mengerti hingga waktu kita berada di gang dan berpapasan dengan Orang Tua itu, lalu dia mengucapkan kalimat yang aku baca barusan.

PRAMUSAJI WANITA :(Terlihat menuju ke meja Rima dan Djodi, sebuah nampan berisikan pesanan Rima, lalu menata di meja) Silahkan,...(Kemudian ketika dia hendak pergi dari meja tersebut)

DJODI            :(Djodi menghentikan Pramusaji tersebut, lalu dia memesan segelas kopi, kemudian Djodi melanjutkan kembali bahasannya) Ok Rim,...Aku lanjutkan sedikit lagi, melihat, merasakan dan mengalami hal-hal aneh akhir-akhir ini, maksud ku semenjak kita memulai melakukan penelitian ini, kesimpulan sementara ku adalah bahwa sebuah kekuatan gaib, spiritual atau apapun namanya sedang memantau kita bahkan dia mengikuti kita.

RIMA :(Rima mengangkat gelas kopi hendak minum, namun betapa kagetnya dia ketika gelas itu tiba-tiba membesar di tangan kanannya, karena keterkejutannya gelas kopi itu terjatuh ke meja, tidak pecah namun seluruh kopi tumpah ruah di atas meja sebahagian menciprat ke baju juga celana yang dipakainya, tidak hanya Rima, namun juga Djodi kebagian cipratan kopi tersebut, sementara itu Rima masih terlihat shock dan tak melakukan apapun dalam beberapa detik)

{Lalu Djodi bangkit dari duduknya berusaha hendak membersihkan atau mengelap baju Rima dengan kertas tissue yang tersedia di sana, namun serta merta Rima menghentikan aktifitas Djodi}

RIMA :(Sambil berusaha megelap bajunya dengan tissue) Ok Djod,...Aku paham sekarang, apapun yang akan ku alami tak kan ku biarkan kekuatan aneh ini mengambil keberanian ku untuk menyelesaikan tugas ini, Djod kita sudah sejauh ini dan kita harus sampai ke ujung.

DJODI            :(Sebaliknya sekarang Djodi duduk terdiam tak bergerak memperhatikan Rima,...bukan dia Shock tentang apa yang baru saja terjadi, namun dia masih kurang yakin dengan apa yang baru saja di dengar dari mulut Rima, ucapan- ucapan yang mengandung keberanian dan pantang menyerah, sebenarnya jauh dalam hatinya dia hendak mengatakan ‘kamu memang wanita yang aku idamkan) Ya Rima apapun yang akan terjadi kita harus selesaikan tugas ini sampai tuntas. Aku akan bersama kamu, apapun yang akan terjadi nanti aku sudah siap.

RIMA :(Rima berdiri seperti orang bergegas hendak pergi) lalu apalagi yang kita tunggu,...?!

DJODI :(Djodi masih duduk, melihat ke arah Rima) Ok Rima, aku hargai semangat kamu, tetapi aku perlu minum segelas kopi dulu, lagian aku merasa kasian dengan roti Croissant kamu.

RIMA :(Rima duduk kembali) Ok,... silahkan saja lagian tiba-tiba saja aku merasa perut ku penuh dengan makanan, rasa lapar ku menghilang.

{Tak lama kemudian Pramusaji Wanita, membawa segelas kopi pesanan Djodi}

DJODI            :(Djodi melahap Croissant seperti orang kelaparan berhari-hari)

RIMA :(Rima memperhatikan cara Djodi menghabiskan roti tersebut, tanpa sepatah kata)

DJODI            :(Djodi menghabiskan bagian terakhir dari roti tersebut) Aku suka roti ini (Lalu menegak habis kopi dalam sekali minum)

RIMA :Hari ini aku bayarin kamu (Kemudian Rima ke meja kasir di ikuti Djodi, di sana telah berdiri mas Kasim, Rima menyedorkan Uang 20 ribuan, kemudian mas Kasim mengembalikan 10 ribuan kepada Rima) terimakasih Mas

MAS KASIM :(Membalas senyum Rima juga kepada Djodi, hari ini tidak ada tegur sapa seperti biasanya, semua serba non verbal)


{Kemudian Rima & Djodi keluar dari Cafe, menuju tempat parkir sepeda motor, parkirannya persis di depan Cafe, Rima megang Stir, lalu mereka meniggalkan tempat tersebut}


Selanjutnya
The 13th Room, Bagian Ketiga The 13th Room, Bagian Ketiga Reviewed by Presiden Kacho on 23.06 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.