The 13th Room, Bagian Kesembilan


SEQUENCE 28
TERAS HOTEL X - PAGI HARI


{Rima dan Djodi terlihat duduk di salah satu anak tangga menuju pintu Hotel X, Hotel X ini memiliki Teras lumayan luas, semua Tamu Hotel sebelum memasuki Hotel harus melalui Teras ini, So Rima dan Djodi sengaja menunggu di tempat ini karena dengan demikian ketika Pak Solardjo datang dia langsung bisa melihatnya dan tentu Pak Soelardjo juga tak bisa berpaling dari mereka. Berselang waktu kemudian mobile Pak Lardjo terlihat masuk Hotel, lalu Sopirnya memarkir di depan Rima dan Djodi, kemudian pak Soelardjo terlihat turun dari Mobil tersebut lantas mobil meninggalkan tempat itu

Rima Dan Djodi Langsung berdiri dari duduk mereka mengucapkan Siang Pak, pak Lardjo yang merasa tak ada moment untuk nolak lagi membalas mereka juga, lalu mereka jalan bareng Pak Lardjo ke rungan kantornya, dalam perjalanan tersebut Pak Lardjo tidak mengucapkan apa-apa sampai-sampai pak Lardjo tidak menyilahkan Rima dan Djodi masuk Kantornya atau bahkan mengikutinya sejak tadi, namun Rima dan Djodi sudah tak punya pilihan untuk sementara waktu menghadapi manusia seperti pak Lardjo memang harus dengan cara seperti ini, sehingga tak ada lagi kesempatan menolak atawa rapat yang tiba-tiba, seperti alasan klasik kebanyakan Birokrat} 

PAK SOELARDJO :(Setelah duduk di kursi Empuknya, dan menghela nafas panjang) Lalu apa yang kalian inginkan dari saya sekarang...?!

RIMA :(Tak lama setelah duduk di Kursi) Yang jelas kami tidak menginginkan sesuatu pun dari Bapak yang sifatnya materi. Kami hanya ingin mewawancarai Bapak tentang beberapa pertanyaan sebagaimana telah kita sepakati melalui telephone beberapa hari yang lalu. Hal ini berkenaan dengan tugas akhir kami di Institut, yakni membuat sebuah Film Dokumenter.

DJODI            :(Kali ini tidak menunggu lagi aba-aba dari Rima, segera dibukanya tas berisi Camera, Tripot dan Microphone)

PAK SOELARDJO :(Lagi-lagi terlihat Pak Lardjo menarik nafas panjang) Ya Okay...

DJODI            :(Segera ambil posisi di salah satu ruangan itu untuk Anggle Cameranya, lalu dia memberi Aba - aba ke Rima tanda Camera Ready) Cam Ready.

RIMA :Okay kalau demikian kita siap mulai wawancaranya.

PAK SOELARDJO :(Masih dengan nafas berat) Ya...

RIMA :Apa yang Bapak ketahui tentang cerita angker kamar Hotel dengan nomor Urut 13...?!

PAK SOELARDJO :(Pak Lardjo sedikit tercengang dan terkesan sedikit menutup-nutupi jawaban yang sebenarnya) Apaaa...??! Tidak itu...saya malah baru dengar sekarang...!?

RIMA :Lalu kenapa ada Hotel di kota ini memakai Nomor Urut 13 dan tidak, menurut Info dari masyarakat ini berkenaan dengan pelayanan istimewa pada mahkluk tertentu, apa itu benar Pak...?!

PAK SOELARDJO :(Masih terkesan menutup-nutupi) Cerita Itu juga tidak benar...

RIMA :Kalau memang jawaban Bapak benar lalu kenapa kamar urut 13 tidak bisa disewakan kepada tamu.

PAK SOELARDJO :Ya...kalau itu sekedar Tradisi saja.

RIMA :Baik Pak, kiranya itu saja pertanyaan saya. Terimakasih kerjasama Bapak

RIMA :(Rima melihat ke Djodi) Ok Djod kita sudah cukup


{Lalu Rima dan Djodi bersalaman dengan Pak Lardjo, sebagai tanda terimakasih, mereka langsung minta ijin dan pergi dari situ}


SEQUENCE 29
JALANAN JOGJA  -  SIANG HARI


{Mereka terlihat keluar dari Hotel X lalu melaju di sebuah jalanan Jogja, Djodi membonceng Rima}

RIMA :Djod...sepertinya aku dah lama gak ke malioboro, Aku Rindu duduk dan makan di warung Co-Boy, kamu setuju kalau kita melewati jalan malioboro lalu kita mampir sebentar sebelum ke kampus.

DJODI :Ok cocok aku juga sudah lama gak ke sana

{Tak lama kemudian mereka terlihat memasuki jalan Malioboro lalu merapat ke salah satu area parkir dan kemudian menuju ke salah satu angkringan yang ada tak jauh dari situ, namun mereka harus menyeberang jalan karena posisi angkringan ada di sisi yang berbeda, mereka memesan Es Teh, sambil minum, melihat-lihat dan Ngobrol tiba-tiba Djodi muncul ide}

DJODI :Rim Aku baru sadar...

RIMA :Ada apa...

DJODI            :Malioboro kan salah satu Maskot Jogyakarta, bagaimana kalau kita memasukkan beberapa stock shoot ke dalam Film kita nanti...

RIMA :Kalau gitu ngapain nunggu lagi, ayoo ambil Camera mu

DJODI            :(Bergegas membuka tas lalu mengeluarkan sebuah Camera dari sana dan kemudian sibuk membidik ke beberapa sudut di area tersebut, kurang puas hanya satu anggle lalu Djodi mengambil dari beberapa sudut lain yang berbeda hingga dia merasa cukup, kemudian ke angkringan di mana Rima menunggu di sana)

RIMA :Gimana sudah...

DJODI            : Ya aku kira sudah cukup...kesibukan di sini sangat bagus untuk stock shoot.

RIMA :Ya aku rasa juga gitu...Eh Djod (Tiba-tiba ngalih pembicaraan) Kira-kira Pak Andar Masuk Kampus gak ya hari ini

DJODI            :Kenapa emangnya (Djodi agak sebel, Abis saat di butuhkan malah dosen sering Absen)

RIMA :Lhoo dia kan Dosen pembimbing kita, ya apa salahnya kita lihatin hasil kerja kita, mana tahu nanti kritikan dan masukan dari dia akan menambah kesempurnaan karya kita ini...?

DJODI            :Ok-ok aku setuju, sehingga kalau ada kesalahan vital kita bisa wanti-wanti dari sekarang ketimbang setelah di Edit malah di suruh Edit lagi, Wah Kacau kannnn...??!

RIMA :YAP, You Are The Man...

DJODI            :(Expresi terlihat sedikit berbangga) Thanks Sweat

RIMA :Eh Aku sudah siap pergi dari sini

DJODI            :Ya Aku juga...

RIMA :Ya tapi kamu habisin dulu minum mu

{Setelah itu mereka meninggalkan Malioboro menuju Kampus, Akhir-akhir ini hampir tidak ada perbedaan Ide dalam menggarap film tersebut, semua serba se-Ide, jarang sekali Djodi yang membantai ide Rima atau sebaliknya Rima juga tak pernah membantai Ide Djodi, malah ide-ide mereka semua saling melengkapi, Rima sudah mulai merasa convert dengan Djodi dan Djodi juga sebaliknya, namun rasa cinta yang dari hari ke hari semakin besar itu tetap masih tersimpan di sanubari masing-masing mereka, bagi ke dua nya sama-sama mencari moment yang tepat mengungkapkannya}


SEQUENCE 30
RUANG DOSEN - MENJELANG ASHAR


{Di dalam ruangan yang tidak begitu besar namun di bagi dua bagian satu untuk seorang sekretaris dan satunya bahagian  ruang dosen, benar saja firasat Rima Pak Andar gak ada barusan saja keluar kata Sekretarisnya, ada panggilan mendadak, apa hendak dikatee. Akhirnya mereka menitipkan kepada Sekretaris Pak Andar semua hasil Shoot dan juga narasi yang berhasil di himpun Rima, tentu saja masih berupa draft, belum ada hasil editan Video maupun format penulisan bagi Narasi, setelah itu mereka meninggalkan ruangan tersebut, namun sebelumnya pamitan sama sekretarisnya Pak Andar lebih dahulu}

{Mereka sudah di luar ruang menuju tempat parkir}

DJODI            :(Djodi bertanya) Kemana lagi nie kita Rim... setelah dari sini...

RIMA :Sepertinya aku mo langsung ke rumah, aku pingin Istirahat

DJODI            :Okay aku boleh titip Helm ku gak...

RIMA :Eh emang kamu mau kemana...

DJODI            :Mungkin aku akan ke tempat Bedhoot dulu, sampai bertemu besok ya (Kemudian berpisah di sana, Djodi terlihat menuju kantin)

RIMA :(Rima balik Arah, menghidupkan motornya, lalu meninggalkan tempat itu juga)



SEQUENCE 31
KONTRAAN BEDHOOT - PAGI HARI


{Bedhoot mengontrak sebuah rumah bersama dua temannya sejak kuliah, di sebuah perumahan di dekat kampus. Rumah yang mereka kontrak cuma tipe sederhana, di antara rumah di sana Rumah kontraan Bedhoot paling Unik paling gak teratur, tanpa garasi dan teras, pagar pun cuma tembok nya saja, bukan karena mereka merusaknya, namun memang sejak di kontrak sudah demikian adanya, Bedhoot punya teman sekontrakan, satu kampus cuma beda fakultas tapi satu angkatan, temannya itu kuliah di Kriya Logam, namun suka ngelukis juga Ngoleksi sepeda bekas dari yang antik hingga setengah modern, anehnya lagi teman Bedhoot yang memiliki nama Chairul ini karena begitu demannya ama sepeda bekas, hingga ada dua sepeda yang sengaja di gantung di dalam kamarnya satu di langit- langit satunya di tempelkan  di dinding kamarnya, yang lainnya cuma di letakkan di halaman rumah ditutupi dengan terpal biru, uniknya lagi semua sepeda bekas ini sudah tak bisa di pakai ntah ban kempes lah atau pedalnya hilang satu, Teman Bedhoot satunya lagi namanya Imam, Imam juga se angkatan dengan Bedhoot kuliah di fakultas pertunjukan Jurusan theater, kamar Imam dipenuhi dengan tempelan-tempelan kertas coretan tangan ada yang berbentuk puisi ada juga berupa naskah pementasan, ada juga beberapa photo pementasan tertempel serampangan gak teratur di antara kertas-kertas tersebut. hampir semua dinding kamar di penuhi tempelan kertas dan photo. Pagi itu semua teman sekontrakan Bedhoot masih tidur, Djodi juga masih terlihat tidur di kamar Bedhoot padahal pagi sudah menunjukkan waktu 08:30 Wib, Bedhoot bergadang karena harus menyelesaikan Editan Video hasil tugas mereka, Bedhoot punya satu unit Komputer PC tidak begitu powerful, namun cukuplah untuk sekedar ngedit video tugas kampus biarpun Rendernya memakan waktu lama, belum lagi hank di saat sedang render}

BEDHOOT :(Bedhoot duduk di kursi di depan komputer sedang menonton ulang hasil editing videonya)

DJODI            :(Djodi terjaga dari tidurnya, berusaha duduk masih dalam posisi seperti orang shalat, karena tadi posisi tidurnya telungkup sambil menggosok-gosok mata dengan tangannya) Eh Dhoot udah jam berapa sekarang...

BEDHOOT :(Bedhoot sambil tetap terus menonton) Jam 09:05...

DJODI            :(Langsung terperanjat dari kasur yang cuma di letakkan di lantai, tanpa ranjang dan bergegas ke kamar mandi) Gila Aku bisa terlambat... aku punya janji sama Rima bertemu Pak Andar jam 09:30 pagi ini.

{Di kamar mandi, Djodi bergegas cuci muka lalu gosok gigi Ntah dengan sikat gigi siapa udah gak kepikir lagi, setelah itu Djodi kembali ke kamar Bedhoot, Bedhoot masih belum beranjak dari depan komputer. Djodi lalu meraih baju nya yang tergantung di belakang pintu kamar}

DJODI            :Eh Dhoot Apa kamu bisa pinjam kan motor mu sebentar...

BEDHOOT :(Masih Konsen ke monitor komputer) Pakek aja kuncinya ada di atas meja 

DJODI            :(Djodi sudah paham sama Bedhoot lagi kerja ya serius gitu, di ajak ngomong aja gak pernah ngeliat ke arah yang ngajak ngomong, bagi Djodi perilaku seperti itu sudah biasa, seperti di cuekin, tapi sebenarnya bukan) Ok Dhoot Thanks, nanti pas makan siang tak kembali in (Djodi meninggalkan Bedhoot yang masih serius di depan Komputer. Djodi menghidupkan motor di depan rumah, dibiarkan beberapa saat biar mesin nya panas, ketika hendak di kenderai, ternyata ban nya kempes. lalu dia kembali ke kamar Bedhoot mengembalikan kunci)

DJODI            :Sorry Dhoot Aku gak jadi pakai motor mu

BEDHOOT :kenapa...


DJODI            :Ban nya Kempes...(Terus ke luar lagi dari kamar Bedhoot tanpa menunggu pertanyaan berikutnya dari Bedhoot. Akhirnya Djodi berjalan kaki ke Kampus, tidak ada jalan lain kecuali berlarian atau mempercepat langkah, jarak 2.3 km itu harus di tempuh dalam waktu 15 menit berjalan kaki dan butuh 05 menit dengan berkenderaan, harus di tempuh dalam waktu 08 menit sekarang dengan berjalan kaki)


Baca Selanjutnya
The 13th Room, Bagian Kesembilan The 13th Room, Bagian Kesembilan Reviewed by Presiden Kacho on 23.20 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.