The 13th Room, Bagian Kelima


SEQUENCE 16
CAFE MERCI - PAGI HARI 


{Arloji di dinding Cafe Merci sudah menunjukkan jam 8:30 Pagi, beberapa orang terlihat memasuki Cafe, beberapa lainnya keluar, suasana pagi ini memang agak dingin, banyak orang masih berjaket. Cuaca di luar berawan tetapi tidak hujan, ini sudah menjadi kehendak Alam bila di Jogja memasuki bulan Juli memang iklim nya berubah ke dingin, bulan pergantian musim panas, hangat ke dingin. Di dalam Cafe di salah satu deretan meja telah menunggu Andy dan Bedhoot  ntah apa yang mereka bicarakan yang jelas sesekali mereka terlihat tertawa (bukan terbahak-bahak) sambil menikmati kopi pagi mereka. Berselang waktu kemudian tampak Rima dan Djodi memasuki Cafe sebuah Tas punggung ukuran sedang di panggul Djodi, dihempaskan Tas tersebut di samping Meja di mana Andy dan Bedhoot duduk di sana, Rima langsung menempati salah satu kursi yang kosong di meja tersebut}

DJODI            :Sorry kami terlambat,...

RIMA :Ya,... kalian sudah lama menunggu,..?!

BEDHOOT :Ah tidak juga paling baru (Bedhoot melihat ke arah Andy) berapa lama Andy,..

ANDY            :Ya nggak lama baru satu jam (Tentu jawaban Andy bersifat sarkastis sambil berpura-pura serius)

BEDHOOT :He he, (Bedhoot terkekeh) tentu tidak selama itu, tapi benarnya kami sudah dari jam 7:45 pagi di sini dan itu berarti,...

ANDY            :Kami sudah menunggu kalian lebih kurang 45 menit, Pahaaammm (Sekarang Andy berpura-pura marah)

DJODI            :Hey hey hey. Sorry kawan kami tidak bermaksud telat, tadi sepeda motor ban nya bocor. So kami telat

RIMA :Iya benar, so sekarang kami minta maaf secara terbuka dan akan kami muat permohonan maaf kami ini seminggu di koran lokal dan nasional secara berturut-turut. Bagaimana kalaian telah memaafkan kami,...?! (Rima tentu tidak bermaksud serius dengan ide nya itu, sambil memanggil memanggil salah seorang pramusaji wanita)

{Kemudian mereka tertawa bersama mengakhiri aksi theater mereka yang bertema ‘ Pertikaian ‘ tersebut}

PRAMUSAJI WANITA :Mau pesan apa,...

RIMA :Aku segelas kopi aja Mbak, kamu Djod,...

DJODI            :Aku juga Mbak.

{Sementara mereka saling ngobrol pramusaji wanita mendatangi mereka dengan 2 Cangkir kopi panas}


DJODI :(Djodi menuangkan kopi ke Cawan tempat cangkir kopi itu diletakkan, lalu Djodi meminum kopi dari cawan tersebut, semua melihat Aksi Djodi) Hey hey apa ada yang salah dengan apa yang aku lakukan,..?!

{Semua serta merta menjawab “tidaaak“ sambil menarik balik posisi badan setiap mereka yang tadi condong ke depan saat sama-sama terfokus pada aktifitas Djodi}

DJODI            :Hey aku tak heran bila kalian memandang apa yang kulakukan Aneh, karena kalian tak bisa mendapatkan cara seperti ini pada kehidupan moderen sekarang, ini metode warisan nenek moyang kita dulu, he he he. So cara ini bisa menjadikan kopi sepanas apapun bisa di minum langsung, cuma butuh sedikit tiupan saja saat sebelum bibir kalian menyentuh pinggir cawannya (Djodi sambil memperaktekkan semua caranya).

{Suara koor “Oooooooooo“ begitu, setengah mencemooh}

DJODI            :Kalian lihat sekali lagi (Djodi menuangkan sisa Akhir kopinya ke dalam cawan, langsung menegak dalam sekali minum) habis kan,... Aku tak merasa panas sedikit pun di lidah ku.

RIMA :Ok,...ok sudah cukup Aksi nya, sekarang boleh kita berangkat aku gak mau balik ke Jogya kemalaman

BEDHOOT :Ya sure kita berangkat sekarang, tapi bayarin kopinya dulu dong,...?!

RIMA :Dasar pantengong (Sambil mengeplak kepala Bedhoot, canda seperti ini sering mereka lakukan di kantin kampus)

ANDY            :(Andy ikut-ikutan ngeplaak kepala Bedoot,..) Huuuuuuuuuu

DJODI            :Well,...well. Kali ini biar Aku yang bayar kalian hitung-hitung bisa jadi pahlawan kesiangan kalian

{Koor serempak “Huuuuuuuuu“, kali ini malah Djodi yang kebagian di kerumunin, semua tangan ke kepala Djodi, Bedhoot malah lebih Gila, karena dia merasa paling kecil di antara semua, bukan hanya tangan tetapi berusaha badan nya ingin menindih Djodi}

DJODI            :(Sambil mencoba melepaskan Bedhoot di atasnya) Dhoot,...Gila kamu. (Lalu Djodi menuju kasir, kemudian kembali lagi ke meja tempat semua duduk) Ok sudah beres,...Ayo kita berangkat.

{Semua meninggalkan Cafe Merci, sebelumnya mereka berterima kasih pada mas Kasim, bagi mereka Mas Kasim sudah seperti kakak, lalu mereka keluar Cafe Merci. di luar Cafe terlihat Djodi Memboncengi Rima sementara Andy memboncengi Bedhoot}

ANDY            :(Andy memimpin di depan) Let’s Go Man.


SEQUENCE 17
SEPANJANG JALANAN MENUJU TUJUAN (MUNTILAN) - PAGI HARI


{Andy masih terus memimpin di depan sebagai Navigator. 25 menit kemudian mereka tiba di kota Muntilan, mereka membelokkan sepeda motor pada sebuah pertigaan ke arah kanan. Pertigaan ini menghubungkan mereka dengan Desa yang mereka tuju. dari pertigaan ini lebih kurang 25 menit lagi ke arah Timur. Sebenarnya jarak nya lebih pendek dari Jogya-Mutilan, namun karena jalan di sini lebih kecil dan banyak lubang, mau tak mau kecepatan laju mereka harus pelan bila ingin selamat. tak lama kemudian Andy yang sedari tadi memimpin di depan membelokkan Motornya ke sebuah bagunan Joglo di kiri jalan dan berhenti di sana}



SEQUENCE 18
HALAMAN BANGUNAN JOGLO (DESA TURGO) - PAGI MENJELANG SIANG HARI


{Halaman nya Cukup luas diperkirakan 3 Truk jenis Trontoon bisa parkir di sini bersamaan, dua buah rumah Joglo terlihat berdiri berderet, terkesan seperti menyatu namun sebenarnya ke dua joglo ini memiliki rangka sediri-sendiri. Di sebelah kiri bagunan joglo tersebut berdiri sebuah rumah sekaligus berfungsi sebagai kantor dengan model atap sama seperti Joglo juga cuma ukurannya lebih kecil dari ke dua ukuran Joglo yang di jadikan tempat para pengrajin batu memahat serta tempat meletakkan karya-karya patung mereka. Ada puluhan patung jadi menepati ruangan joglo tersebut

Andy, Bedhoot, Rima dan Djodi berjalan menuju bangunan Joglo di sana terlihat beberapa pekerja. Andy bertanya pak Karyo pada salah satu pekerja, pekerja tersebut menunjukkan ke sudut lain joglo di mana Pak Karyo terlihat sedang memahat juga, sebelum Andy dan kawan-kawan menuju ke pak karyo, tak lupa memperkenalkan Djody dan Rima pada beberapa pekerja yang terlihat di hari itu. Pak Karyo adalah pemilik usaha Pahatan batu di sini, pak Karyo sudah tidak muda lagi, namun di umur nya ke-67 ini dia masih terlihat kuat dengan pahat dan martil di tangan kanannya. sebenarnya di desa ini bukan hanya Pak Karyo yang memiliki usaha sejenis, namun ada banyak pemahat-pemahat lain bertebaran di seantero Desa. Tetapi pak Karyo adalah orang Pertama sekaligus cikal bakal dalam usaha Pahat batu di Desa Turgo ini, Pak Karyo dan karyanya sudah di kenal sampai ke negara Manca. Dalam sebulan bisa sampai dua kali pengiriman ke luar negeri, terutama Eropa. Pak Karyo sekilas terkesan cuek dan angkuh, namun dia sebenarnya Orang yang baik dan bertanggung jawab, semua pekerja di tempat pak karyo kesejahteraanya terjamin. Walau kadang mereka sering di repetin pak Karyo terutama kesalahan dan ketidakrapian kerjaan mereka, namun semua pekerja di sini sudah kebal dan sudah di anggap angin lalu, Toh kemarahan pak Karyo juga untuk kebaikan mereka sendiri }

ANDY            :(Memanggil Pak Karyo) Permisi Pak,...

PAK KARYO            :(Pak karyo tidak menoleh, masih asyik dengan kerjaannya)

ANDY            :(Andy mengulangi lagi) Permisi Pak Karyo,...

PAK KARYO            :(Pak karyo menghentikan pukulan palunya, menoleh ke Arah datangnya suara)

ANDY            :(Andy tidak buang waktu lagi, Andy Langsung memperkenalkan Djodi dan Rima kepada Pak Karyo) Pak ini teman saya, dari Jogya, ingin melihat-lihat karya bapak sekaligus ingin bekeliling desa. Di kampus sedang Stress banyak tugas, kami se-Angkatan. Ini Rima anak Sumatera dan ini Andy dari Kalimantan.

PAK KARYO            : (Pak Karyo masih terus memukul pahatnya, pandangannya sudah terarah ke Patung pahatannya sambil terus memahat nya) ya silahkan di lihat-lihat aja dulu (Pandangannya tetap pada patung pahatannya, berkata pada Andy) tolong kamu jamu tamu mu Andy

ANDY            :Iya Pak, terimakasih

{Di sudut lain bangunan itu Bedhoot sedang tertawa kiki- an sama beberapa pekerja ntah apa yang di lakukan Bedhoot di sana}

ANDY            :(Andy Kemudian membawa Djodi dan Rima menjauh dari pak Karyo) Kalian Mo minum dulu atau mau keliling dulu.

ANDY            :Eh kalian jangan ambil hati sikap Pak Karyo tadi, Pak karyo karakternya memang sedikit Aneh, ya maklum aja, Seniman,...!!?

DJODI & RIMA :Santai aja lah,...

ANDY            :Ok,... kayak nya kalian tak harus aku temani untuk berkeliling di semua sudut Joglo ini, bukan,...?! nanti kalau kalian butuh aku, aku ada di rumah itu (Sambil menunjuk ke arah Rumah). Selamat menikmati suasana di sini.

RIMA :Thanks Andy.

{Lalu Rima dan Djodi berkeling ke seluruh bangunan Joglo tersebut, mulai dari tempat batu-batu besar di pecahkan menjadi beberapa bagian sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Sampai bagaimana bongkahan batu-batu tersebut berubah menjadi patung anggun seperti malaikat-malaikat rekaan serta beberapa bentuk makhluk gaib lainnya, mereka tak habis-habisnya memuji pemahat-pemahat didikan Pak Karyo, kerjaan mereka benar-benar halus rapi, sepintas seperti buka kerjaan tangan atau dikerjakan secara tradisional. Namun kenyataannya memang dikerjakan dengan tangan tidak terlihat mereka memakai alat-alat Modern di sana, kecuali pemotong batu yang terbuat dari mesin. Setelah melihat-lihat semua proses produksi dan post produksi, kali ini mereka di tempat meletakkan semua patung-patung jadi siap di pack untuk di kirim kepada pemesan. Ketika satu persatu patung di sana di lihat dengan penuh kekaguman, betapa terkejutnya Rima ketika matanya menagkap ada satu objek patung, rasanya kok dia sudah pernah melihat rupa dari Patung ini,..}

DJODI            :(Djodi yang melihat perubahan Rima bertanya) Ada apa Rim,...

RIMA :(Sambil menunjuk ke arah patung) Djod Coba kamu lihat Patung itu, bukankah bentuknya sesuai dengan gambaran wanita di lobby hotel saat kamu tunggu aku tempo hari,...?!

DJODI            :(Lalu mendekat ke arah patung melihat lebih dekat sambil kadang menyentuhnya, patung berjubah panjang, mukanya tertutup dengan jubah pangjang pula, tak ada bahagian tubuh yang terlihat, kecuali dua buah lobang untuk mata dan satunya untuk hidung) Ya,...Aku kira memang seperti ini kira-kira bentuk yang digambarkan oleh Wanita tersebut.

RIMA :Memang,...mereka memang tak salah lagi, kalau kamu ingin tahu, sesungguhnya sosok ini juga yang aku lihat dalam mimpiku. Cuma yang menjadi pertanyaan ku sekarang siapa yang memesan patung ini,...!

DJODI            :Sebaiknya hal ini kita tanyakan sama pak Karyo.

RIMA :Ya benar, tetapi bagaimana kalau melalui perantaraan Andy sama Bedhoot saja.

DJODI :Ok aku setuju, ayo kita temukan mereka.

{Mereka kemudian meninggalkan tempat tersebut, lalu menuju rumah yang juga berfungsi sebagai sebuah kantor tersebut, di rumah ada sebuah kamar sepertinya ini sepecial bagi Andy dan Bedhoot, ada sebuah Monitor TV Camera sedang dinyalakan pada fungsi VTR, sebuah sofa panjang dengan meja ukuran sedang, ketika mereka dipersilahkan masuk Andy dan bedhoot sedang Play Back hasil Shootingan mereka}

ANDY & BEDHOOT           :Ayoo Kawan silahkan Masuk, lihat hasil shootingan kami.

BEDHOOT :Oh iya nanti juga kami akan ajak kalian ke tempat penambang batu, kebetulan di layar Monitor sedang ada picturasi para Penambang di Kali yang menyerupai sebuah lembah ketimbang Kali.

ANDY :Hey,... hey,... sepertinya kalian sedang gelisah Ada apa,...ayoo katakan

DJODI            :Andy kami melihat rupa sebuah patung dan patung tersebut mirip sekali dengan yang di lihat Rima dalam terror mimpinya dan juga mirip dengan gambaran seorang wanita tamu sebuah Hotel X di jogya.

RIMA :Andy bisakah kamu membantu menanyakan kepada Pak Karyo. Siapa gerangan yang memesan Patung tersebut, mungkin ini bisa membantu pengungkapan misteri yang sedang kami teliti.

ANDY :Ok, ayoo kita ke pak Karyo,...

RIMA :Sebaiknya kami tunggu di sini aja dulu sambil menenangkan diri

BEDHOOT :Aku Kok jadi penasaran pingin tahu sosok hantu tersebut, mungkin kalian bisa tunjukkan dulu pada kami dulu sebelum kita tanyakan pak Karyo,...?!

DJODI            :Ya ide bagus Juga, ayoo kita sama-sama ke sana

{Mereka semua berangkat ketempat Djodi dan Rima melihat Patung itu sebelumnya, namun betapa mengherankan bagi Rima dan Djodi. Sosok patung aneh tersebut sudah tak berada di sana lagi}

DJODI & RIMA :Patungnya menghilang,...!!!

RIMA :Tadi patungnya ada di sini

DJODI            :Iya (Djodi menimpali sambil berdiri di bekas patung tersebut sebelumnya) patungnya tadi ada di sini.

ANDY            :Heran aku baru kali ini mendengar kejadian aneh di sini, tetapi untuk memastikan aku akan menanyakan kepada pak Karyo dahulu, mungkin bisa saja ada yang memindahkannya bila patung itu memang benar ada.

BEDHOOT :Ya benar atau bisa jadi itu tadi sekedar  halusinasi kalian berdua

{Mereka meninggalkan tempat tersebut, mengikuti Andy Dan Bedhoot, terlihat Andy & Bedhoot bertanya-tanya pada sejumlah karyawan dan pemahat yang mereka temui tak ada yang merasa melihat atau membuat patung seperti sosok yang di lihat oleh Djodi dan Rima apalagi memindahkannya. Kemudian Pertanyaan terakhir adalah kepada pak Karyo sekaligus untuk menjawab semua teka-teki tersebut. Namun jawaban akhir yang mereka terima juga sama. Alhasil Djodi dan Rima sedang dipermainkan oleh makhluk aneh tersebut. Ini bukan yang pertama bagi Djodi dan Rima so mereka sudah tidak begitu shock lagi,...}

DJODI & RIMA :Ya sudah

RIMA :Mungkin Bedhoot benar, tadi itu hanya halusinasi kami belaka (Rima berkata seperti itu karena dia tidak sedang ingin membuka debat tentang hal-hal gaib yang menerornya, baginya cukup dia dan Djodi saja lah yang mengetahui duduk perkaranya)

ANDY :Ok lupakan kejadian barusan, ayoo kita lahap sarapan Siang dulu, setelah itu kami akan ajak kalian ke tempat penambang batu

BEDHOOT :Iya lapar niee (Sambil meremas-remas perutnya)


{Setelah Mereka menyantap hidangan di rumah Pak Karyo, mereka istirahat di kamar Special Andy dan Bedhoot. Kemudian mereka pergi ke Lokasi Penambang Batu}


Selanjutnya
The 13th Room, Bagian Kelima The 13th Room, Bagian Kelima Reviewed by Presiden Kacho on 23.11 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.