Scond to Face-Pertemuan Ke-2 by Deddi Iswanto

GOOD JOURNALISM DAN BAD JURNALISM
Leonard Downie JR. Dan Robert G. Kaiser dalam bukunya The News About The News, American Journalism, New York, 2002 telah membilah jenis jurnalisme menurut penyampaiannya, Good Journalism dan Bad Journalism.
Good Journalism ialah kegiatan dan produk jurnalistik yang dapat mengajak kebersamaan masyarakat di saat krisis. Berbagai inhformasi dan gambaran krisis, yang terjadi dan di sampaikan mesti menjadi pengalaman bersama. Ketika sebuah kejadian yang merugikan masyarakat terjadi, sebuah media memberi sesuatu yang dapat dipegang oleh masyarakat. Sesuatu itu adalah fakta-fakta, penjelasan dan juga ruang diskusi, yang menolong banyak orang terhadap sesuatu yang tak terduga kejadiaanya.
Masyarakat diajak agresif pada sesuatu yang penting terjadi, dari soal pendidikan, jalanan berlubang, perumahan kebanjiran, pelayanan pemerintah dan keadilan, dan lain-lain, masyarakat diajak paham dan terlibat. Pemberitaan ketidakbecusan dan korupsi di pemerintah dan parlemen dapat mengubah kebijakan yang semula merugikan rakyat, menyelamatkan uang para pembayar pajak dan APBD, serta mengakhiri kebejatan para pelayan dan wakil rakyat. Pemberitaan praktik bisnis kotor menyelamatkan uang konsumen dan keamanan rakyat. Pemberitaan lingkungan, kesehatan, makanan dan produk-produk yang berbahaya menyelamatkan kehidupan rakyat. Peliputan soal kemiskinan, gelandangan, ketidakadilan, penderitaan dan seterusnya, memberi “suara” pada pihak yang tak bisa “bersuara”.
Bad Journalism ialah media yang kurang cakap melaporkan pemberitaan yang penting diketahui masyarakat. Media yang memberitakan suatu peristiwa secara dangkal, semborono dan tidak lengkap, sering disebut tidak akurat dan tidak cover both sides. Ini berbahaya bagi masyarakat karena ketidaklengkapan informasi yang didapatnya. Ketidakcakapan pemberitaan manipulasi dan korupsi perbankan telah mengakibatkan pingsannya industri serta dirugikannya para depositor dan pembayar pajak dalam hitungan ratusan miliar rupiah. Semua dikarenakan kemalasan meliput dan kedangkalan pelaporan. Kerja media cuma mengisi kolom demi kolom dengan hal-hal yang “halus dan sepele”, enggan berurusan dengan hal-hal “penting dan penuh pertempuran”, lebih banyak menimba fakta-fakta yang sudah “siap edar” dari narasumber yang sudah rutin dan formal dan “siap wawancara”. Lalu, bersama-sama kameramen teve, membuat dramatisasi penangkapan yang penuh dengan teriakan dan letusan senjata. Atau, ke sana-kemari diruang pengadilan, mencari peristiwa yang sudah siap dinilaiberitakan.
Semua itu menurut Downie JR dan Kaiser “bukanlah hal yang baru, atau faktual,interesting atau penting untuk di beri label News”.
Dari sinilah terjadi bias. Berita yang diterima masyarakat kerap disensor secara invisible. Entah itu terkait dengan ketidakcakapan wartawan, entah dengan visi redaksi, entah pula dengan kesejahteraan dan keselamatan bisnis media. Meski berbagai asumsi itu tidak sahih benar, setidaknya masih melogikakan cacatnya pemberitaan. Buruknya pemberitaan media menyebakkan ketidaktahuan masyarakat. Ketidaktahuan masyarakat mengakibatkan kerugian. Kerugian itu harus dihindari. (Septiawan Santana K, Jurnalisme Kontemporer, Buku Obor, Jakarta 2005).
TUJUAN UTAMA JURNALISME
Menurut Kovak dan Rosensteil tujuan utama jurnalistik adalah “is to provide people with the information they need to be free and self-governing”.Tujuan utama jurnalisme adalah menyampaikan informasi yang dibutuhkan masyarakat hingga mereka leluasa dan mampu mengatur dirinya. Jurnalisme membantu masyarakat mengenali komunitasnya. Jurnalisme, dari realitas yang dilaporkannya, menciptakan bahasa bersamadan pengetahuan bersama. Lewat jurnalisme, masyarakat mengenai harapannya, siapa yang menjadi pahlawan dan siapa penjahatnya. Media jurnalisme menjadi watchdog, anjing penjaganya, berbagai peristiwa yang baik dan buruk, dan mengangkat aspirasi yang luput dari telinga orang banyak. Semua itu terjadi berdasar informasi yang sama. Informasi itu disampaikan juranlisme kepada masyarakat.
Dalam The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (2001), merumuska sembilan elemen jurnalisme kemudian dikenal menjadi tugas-tugas jurnalisme;
  1. Menyampaikan kebenaran
  2. Memiliki loyalitas kepada masyarakat
  3. Memililki disiplin untuk melalukan verifikasi
  4. Memiliki kemandirian terhadap apa yang diliputnya
  5. Memiliki kemandirian untuk memantau kekuasan
  6. Menjadi forum bagi kritik dan kesepakatan publik
  7. Menyampaikan sesuatu secara menarik dan relevan kepada publik
  8. Membuat berita secara komprehensif dan proporsional
  9. Memberi keleluasaan wartawan untuk mengikuti nurani mereka (Kovach dan Rosenstiel)
DEFENISI BERITA
Kemarin anda main bola sepak, gubernur Irwandi juga main bola sepak, anda memasukkan tendangan bola ke gawang lawan sebagaimana juga gubernur Irwandi, esoknya di koran lokal gubenur Irwandi menjadi berita di halaman depan harian lokal sementara anda tidak. Jawabannya karena Irwandi adalah gubernur sementara anda bukan, ini dinamakan prominence (kemononjolan atau ketenaran).
Ilustrasi di atas adalah untuk memudahkan kita memahami berita. Berita adalah mudah untuk dimengerti mengapa gubernur yang bermain bola sepak lantas menjadi berita, namun ini adalah salah satu saja dari defenisi berita yang lebih kompleks. Berita (News), berdasarkan defenisinya, bukan berarti daftar “sesuatu yang selalu bagini tapi tidak pernah begitu.” Situasi dan perbedaan bisa mengubah sesuatu menjadi berita. (Tom E. Rolnicki, C. Dow Tate, Sherri A. Taylor. Scholastic Journalism, 2008).
Untuk memahami berita, poin-poin berikut penting untuk diketahui:
  1. Berita harus faktual, tetapi tidak semua fakta adalah berita.
  2. Berita mungkin berupa opini, khususnya dari tokoh atau otoritas di bidang tertentu.
  3. Berita terutama adalah tentang orang, tentang apa yang mereka katakan dan lakukan.
  4. Berita tidak selalu berupa laporan kejadian terkini.
  5. Apa-apa yang merupakan berita penting bagi suatu komunitas atau universitas mungkin tidak penting atau kurang penting atau bahkan tidak punya nilai berita bagi komunitas atau universitas lain.
  6. Apa-apa yang menjadi Berita di suatau komunitas atau universitas mungkin juga merupakan berita bagi stiap komunitas atau universitas lainnya.
  7. Apa-apa yang hari ini menjadi berita sering kali sudah bukan berita lagi keesokan harinya.
  8. Apa yang dianggap berita oleh seseorang belum tentu dianggap berita pula oleh orang lain.
  9. Dua faktor yang penting bagi berita, daya tarik dan arti penting, tidak selalu sinonim.
Teks lengkap dari berita tidak selalu tentang peristiwa terbaru. Sering kali paragraf pertama dan beberapa paragraf selanjutnya menurut fakta dan opini yang membuat berita lama menjadi baru kembali. Sebuah peristiwa yang terjadi sebulan lalu atau bahkan setahun lalu mungkin akan menjadi berita jika ia baru saja diungkap. Misalnya di masa kampanye politik sering kali masa lalu dari seorang calon anggota DPR diungkapkan. Kejadian yang belum terjadi bisa juga menjadi berita.
Daya tarik dan arti penting tidak selalu sinonim karena berita baru yang paling penting tidak selalu menarik. Misalnya, ada dua berita di halaman 1: dewan sekolah mengumumkan pembangunan tempat olahraga baru dan direktur atletik dituntut atas tuduhan pelecehan seksual oleh seorang pelatih sekolah. Jika anda sebelumnya tidak tahu kejadian itu sebelum diberitakan, mana yang akan Anda baca lebih dahulu? Mana yang lebih menarik menurut Anda? Mana yang lebih penting dan memengaruhi Anda? Jika Anda menganggap tuduhan pelecehan seksual lebih menarik ketimbang pembangunan gedung olahraga baru, tetapi Anda menganggap bangunan baru itu lebih penting bagi kehidupan Anda, maka kasus ini mengilustrasikan konflik antara daya tarik dan arti penting dari sebuah berita. Ada banyak variabel, dan preferensi personal adalah salah satunya.
Kadang –kadang sebuah berita yang menempati tempat utama di koran atau televisi atau radio sering kali tidak amat penting bagi kebanyakan pembaca atau pendengar. Namun, editor memutuskan untuk mengutamakan berita tersebut karena berita itu memiliki karakteristik unik, dan terkadang mengandung konflik. Misalnya, berita tentang penyelamatan pendaki gunung yang tersesat di Gunung Semeru mungkin tidak penting bagi kebanyakan pembaca atau pendengar/pemirsa, namun berita itu menarik bagi banyak orang karena menggambarkan situasi perjuangan manusia melawan alam. Ketika hendak merencanakan lead berita atau “teras berita,” editor semua media akan mempertimbangkan baik itu arti pentingnya maupun daya tariknya dan kemudian memilih berita yang mengandung kedua unsur itu untuk dimuat atau ditayangkan pada tempat utama dalam berita.(Tom E. Rolnicki, C. Dow Tate, Sherri A. Taylor. Scholastic Journalism, 2008)
HARD NEWS DAN SOFT NEWS
Berita menurut sifat dapat didefenisikan sebagai “hard news” atau “soft news”; perbedaan ini kadang jelas di mata konsumen, tetapi kadang juga tidak.
Hard news (berita hangat) punya arti penting bagi banyak pembaca, pendengar dan pemirsa karena biasanya berisi kejadian yang “terkini” yang baru saja terjadi atau akan terjadi di pemerintahan, politik, hubungan luar negeri, pendidikan, ketenagakerjaan, agama, pengadilan, pasar finansial, dan sebagainya.
Soft news (berita ringan) biasanya kurang penting karena isinya menghibur, walau kadang juga memberi informasi penting. Berita jenis ini sering kali bukan berarti terbaru. Di dalamnya memuat berita human interest atau jenis rubrik feature. Berita jenis ini lebih menarik bagi emosi ketimbang akal pikiran.
Misalnya pengumuman oleh perusahaan softwere tentang rencana untuk mengeluarkan saham publik dapat disebut berita hangat. Berita lain tentang orang yang mendirikan perusahaan softwere tersebut serta tentang koleksi motor yang dimilikinya bisa dikategorikan sebagai berita ringan.
Hard news, meski punya arti penting, biasanya tidak menarik pembaca, pendengar atau pemirsa, karena isinya kurang menarik bagi banyak orang dan sering kali lebih sulit dipahami ketimbang soft news, terutama jika orang tidak mengikuti perkembangan beritanya setiap hari. Meskipun para reporter selalu “menyisipkan” beberapa latar belakang penting, pembaca masih perlu memikirkan informasi yang disajikan guna memahami signifikasinya. Akibatnya, berita tentang fakta untuk berita hangat biasanya diiringi dengan liputan interpretatif di mana reporter menjelaskan signifikan fakta tersebut dan memberi liputang latar belakang yang dibutuhkan para pembaca untuk memahami apa yang mereka baca, dengar dan lihat. Sering kali tipe berita ini ditulis oleh reporter yang berpengalaman dan memiliki keahlian, misalnya di bidang politik luar negeri atau sains. Interpretasi ini, yang terkadang berkaitan dengan opini, biasanya memuat sudut pandang si penulis.
Di radio dan televisi, jenis interpretasi berita ini akan disajikan oleh seorang komentator atau spesialis di bidang tertentu yang diberitakan itu, misalnya bidang politik. Banyak reporter dan komentator menjadi terkenal, dan opini mereka dicari-cari oleh pembaca, pendengar dan pemirsa yang ingin mendengar atau membaca berita yang disajikan oleh analisis atau spesialis berita. Dewasa ini ada cara khusus di radio dan TV dan situs Internet yang dicurahkan untuk diskusi suatu peristiwa. Meet the press, Crossfire, dan Washington Week adalah sedikit contoh dari acara televisi yang menampilkan para jurnalis menganalisis suatu berita. Acara-acara berita ini dapat dibandingkan dengan halaman editorial (tajuk rencana) di koran dan menarik bagi orang yang ingin mengetahui informasi yang mendalam dan berharap memahami suatu sudut pandang.
Kebanyakan koran besar punya banyak wartawan yang punya keahlian membuat berita-berita pemerintahan, hubungan luar negeri, hukum, pendidikan, sains, keuangan, agama, hiburan, dan sebagainya. Koran-koran kecil bergantung pada Associated Press, Reuters, United Press Internasional atau pada sindikat seperti Tribune Media Service untuk mendapatkan berita nonlokal yang signifikan. Banyak stasiun radio dan televisi besar serta beberapa situs berita dan majalah Internet punya wartawan yang ahli di bidang tertentu, seperti bidang pemerintahan daerah. Reporter di tempatkan di ibu kota negara selama sidang majelis. Stasiun penyiaran kecil membeli berita atau feature tentang kesehatan, hiburan dan sebagainya dari pakar berita. Jaringan berita televisi kabel juga punya spesialis sendiri-sndiri.
Banyak berita mengombinasikan elemen hard news dan soft newsHard news tentang konflik personal mungkin bisa memicu respon emosioanl dari pembaca, pendengar atau pemirsanya. Penulis yang cerdas sering menggunakan sudut pandang kemanusiaan untuk berita mengenai berita subjek penting -meringankan hard news-dengan harapan menarik lebih banyak pembaca. Misalnya, berita tentang sidang DPR untuk menurunkan pajak biasanya akan ditulis sebagai hard news, tetapi beberapa elemen soft news, seperti deskripsi tentang bagaimana perubahan itu mempengaruhi orang tertentu dengan pendapatan tertentu, juga akan ditampilkan. Dengan cara ini berita serius yang kurang menarik ini tampil lebih manusiawi. Sudut pandang personal atau kemanusiaan sering menjadi pengantar berita atau akhir berita. Dengan cara ini, penulis secara tak langsung memberi tahu pembacanya mengapa berita ini penting atau releven bagi mereka. Penulis juga menambahkan elemen lokal untuk berita nasional atau internasioanl karena alasan serupa mengaitkan berita penting dengan beberapa aspek pengalaman lokal pembaca, pendengar atau pemirsanya. (Tom E. Rolnicki, C. Dow Tate, Sherri A. Taylor. Scholastic Journalism, 2008)
ELEMEN BERITA
Beberapa elemen nilai berita, yang mendasari pelaporan kisah berita, ialah Immediacy, Proximity, Consequence, Conflict, Oddity, Sex, Emotion, Prominence, Suspense, dan Progress. Di dalam sebuah kisah berita, bisa jadi terdapat beberapa elemen yang sling mengisi dan terkait dengan peristiwa yang dilaporkan wartawan.
IMMEDIACY (kesegaran atau ketepatan waktu);
Immediacy kerap diistilahkan dengan timelines. Artinya terkait dengan kesegeraan peristiwa yang dilaporkan. Sebuah berita sering dinyatakan sebagai laporan dari apa yang baru saja terjadi, bila peristiwanya terjadi beberpa waktu lalu, hal ini dinamakan sejarah. Unsur waktu amat penting di sini.
PROXIMITY (kedekatan atau kemiripan);
Khalayak akan tertarik dengan berbagai peristiwa yang terjadi di dekatnya, di sekitar kehidupan sehari-harinya. Proximity ialah kedekatan peristiwa dengan pembaca atau pemirsa dalam keseharian hidup mereka. Orang-orang akan tertarik dengan berita-berita yang menyangkut kehidupan mereka, seperti keluarga atau kawan-kawan mereka, atau kota mereka serta klub-klub olahraga, atasiun, terminal, dan tempat-tempat yang mereka kenali setiap hari. Melalui unsur ini pula, tergambarkan keberhasilan koran-koran lokal, yang dikelola dengan baik. Mereka mencari perkembangan kota atau provinsi yang menjadi lahan kehidupan terdekat mereka.
CONSEQUENCE (akibat atau dampak);
Berita yang mengubah kehidupan pembaca adalah berita yang mengandung nilai kensekuensi. Lewat berita kenaikan gaji peawai negeri atau kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak), masyarakat dengan segera mengikutinya karena terkait dengan konsekuensi kalkulasi ekonomi sehari-hari yang harus mereka hadapi. Putusan parlemen yang mengesahkan Banten menjadi sebuah provinsi dan lepas dari kewilayahan Jawa Barat, akan diperhatikan masyarakat dikarenakan konsukuensi (bagi para penduduk Banten dan sekitarnya) yang akan dihadapi.
CONFLICT (konflik);
Peristiwa-peristiwa perang, demonstrasi, atau kriminal, merupakan contoh elemen konflik di dalam pemberitaan. Perseteruan antar individu, antar tim atau antar kelompok, sampai antar negara, merupakan elemen-elemen natural dari berita-berita yang mengandung konflik.
ODDITY (keanehan atau keganjilan atau keunikan);
Peristiwa yang tidak biasa terjadi ialah sesuatu yang akan diperhatikan oleh masyarakat. Kelahiran bayi kembar lima, goyang gempa berskala Richter tinggi, pencalonan tukang sapu sebagai kendidat calon guburnurm, dan sebagainya, merupakan hal-hal yang akan jadi perhatian masyarakat.
SEX (seks)
Kerap seks menjadi satu elemen utama dari sebuah pemberitaan. Tapi seks sering pula menjadi elemen tambahan bagi pemberitaan tertentu, seperti pada beritasports,selebriti atau kriminal. Berbagai berita artis hiburan banyak dibumbui dengan elemen seks. Berita politik impeachment presiden AS, Bill Clinton, banyak terkait dengan unsur seksnya.
EMOTION (emosi dan naluri)
Elemen emotion ini kadang dinamakan dengan elemen human interest. Elemen ini menyangkut kisah-kisah yang mengandung kesedihan, kemarahan, simpati, ambisi, cinta, kebencian, kebahagian, atau humor. Elemen emotion sama dengan komedi, atau tragedi.
PROMINENCE (kemenonjolan atau ketenaran);
Elemen ini adalah unsur yang menjadi dasar istilah “names make news”,nama membuat berita. Ketika seseorang menjadi terkenal, maka ia akan selalu diburu oleh pembuat berita. Unsur keterkenalan ini tidak dibatasi atau hanya ditujukan kepada status VIP semata. Beberapa tempat, pendapat, dan peristiwa termasuk ke dalam elemen ini. Bali, petuah-petuah hidup, dan hari raya memiliki elemen keterkenalan yang diperhatikan banyak orang.
SUSPENCE (ketegangan);
Elemen ini menunjukkan sesuatu yang ditunggu-tunggu, terhadap sebuah peristiwa, oleh masyarakat. Adanya ketegangan menunggu pecahnya perang (invasi) AS ke Irak, adalah salah satu contohnya. Namun elemen ketegangan ini tidak terkait dengan paparan kisah berita yang berujung pada klimaks kemisterian. Kisah berita yang menyampaikan fakta-fakta tatap mertupakan hal yang penting. Kejelasan fakta dituntut masyarakat. Penantian masyarakat pada pelaku “Bom Bali” tetap mengandung kejelasan fakta. Namun, ketegangan masyarakat tetap terjadi selama kasus tersebut dilaporkan media, khususnya kepada rincian fakta kejadiannya beserta wacana politik yang membayanginya.
PROGRESS (kemajuan);
Elemen ini merupakan elemen “perkembangan” peristiwa yang ditunggu masyarakat. Kesudahan invasi militer AS ke Irak, misalnya,tetap ditunggu masyarakat. Bagaimana masyarakat Irak seusai perang tersebut membangun pemerintahannya adalah elemen berita yang ditunggu masyarakat. Bagaimana upaya negara- negara yang terkena wabah SARS. Pemberitaannya masih diminati masyarakat. (Septiawan Santana K
KATEGORI BERITA
Berbagai elemen nilai berita harus dipaparkan dengan bahasa pelaporan berita. Penulisannya tidaklah sama dengan menulis makalah, laporan pertanggungjawaban, atau hasil rapat. Dalam jurnalistik ihwal penulisan berita ini punya tempat yang khusus, dalam arti, dibahas secara khusus: melalui karakteristik dan batasan-batasan yang mesti dipenuhinnya.
Selain itu, terkait pula dengan jenis pemberitaan yang hendak dikontekskan. Pertandingan sepakbola, yang berlangsung malam hari yang tidak disiarkan secara langsung oleh televisi yang masih sempat dikerjakan laporannya, tentu saja akan disampaikan secara hardnews: dengan penekanan pada hasil skor akhir pertandingannya, ditambah jalannya permainan kedua klub yang bertarung. Akan tetapi hasil hearing di parlemen yang berlangsung alot tentang RUU Keadaan Darurat Perang, bisa dilaporkan secara feature news: dengan kedalaman dan perluasan berita yang tidak seketat pemaparan hardnews. Dan, di sepanjang hari itu, tentu saja (lagi) punya banyak peristiwa yang masih diketahui masyarakat. Ada berita olahraga lain, berita tentang kesehatan, dan peristiwa-peristiwa sosial lainnya.
Dalam kaitan itulah, jurnalistik kemudian membakukan beberapa kategori pemberitaan, seperti: hard news, feature , sports, social, interpretive, science, consumer, financial.
Hard News
Kisah berita ini merupakan desain utama dari sebuah pemberitaan. Isinya menyangkut hal-hal penting yang langsung terkait dengan kehidupan pembaca, pendengar, atau pemirsa. Kisah-kisahnya biasanya adalah hal-hal yang dianggap penting, dan karena itu segera dilaporkan oleh koran, radio atau televisi dari semenjak peristiwanya terjadi. Pada koran, beritanya diletakkan di halaman depan. Pada televisi dan radio, beritanya disiarkan pada jam-jam prime time. Pada situs-situs berita internet, laporan langsung di-up load, pada up dating informasi yang mesti segera diketahui masyarakat.
Feature News
Berita feature adalah kisah peristiwa atau situasi yang menimbulkan kegemparan atau imaji-imaji (pencitraan). Peristiwanya bisa jadi bukan termasuk yang teramat penting harus diketahui masyarakat, bahkan kemungkinan hal-hal yang telah terjadi beberapa waktu lalu. Kisanya memang didesain untuk menghibur. Namun tetap terkait hal-hal yang menjadi perhatian, atau mengandug informasi bagi khalayak berita. Subjek beritanya mungkin hanya mengisahkan kegemaran orang-orang, tempat-tempat di kota yang telah dilupakan padahal menyimpan nilai sejarah atau kultur, atau kehidupan seorang sukses yang layak diteladani, dan bisa juga orang-orang kelas bawah yang bertahan di sudut-sudut kota yang kumuh.
Sports News
Berita-berita olahraga bisa masuk ke kategori hard news atau feature. Selain dari, hasil-hasil pertandingan atau perlombaan atau rangkain komposisi musiman, pemberitaan juga meliputi berbagai bidang lain yang terkait sports, seperti tokoh-tokoh olahragawan, kehidupan para pemain olahraga yang hendak bertanding, kesiapan-kesiapan kelompok olahraga di dalam masa pelatihan, sampai para penggemar olahraga tertentu yang fanatik.
Social News
Kisah-kisah kehidupan sosial, seperti sports bisa masuk ke dalam pemberitaan hardatau feature news. Umumnya, meliputi pemberitaan yang terkait dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, dari soal-soal keluarga sampai ke soal perkawinan anak-anak.
Interpretive
Di kisah berita interpretive ini, wartawan berupaya untuk memberi kedalaman analisis, dan melakukan survei terhadap berbagai hal yang terkait dengan peristiwa yang hendak dilaporkan.
Science
Dalam kisah berita ini, para wartawan berupaya untuk menjelaskan, dalam bahasa berita, ikhwal kemajuan perkembangan keilmuan dan teknologi.
Consumer
Para penulis a consumer story ialah para pembantu khalayak yang kendak membeli barang-barnag kebutuhan sehari-hari, baik yang bersifat kebutuhan primer dan sekunder, seperti peralatan rumah tangga sampai aksesoris pakaian.
Financial
Para penulis financial news memfokus perhatiannya pada bidang-bidang bisnis, komersial, atau investasi. Para penulisnya umumnya mempunyai referensi akademis atau kepakaran terhadap subyek-subyek yang dibahasnya.
Scond to Face-Pertemuan Ke-2 by Deddi Iswanto Scond to Face-Pertemuan Ke-2 by Deddi Iswanto Reviewed by Presiden Kacho on 11.58 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.